Langsung ke konten utama

keterlaluan?

kabut masih menelungkup menikmati
sisa pergumulan dengan tanah semalam
bangun kesiangan
seorang lelaki asik memainkan cangkulnya
memangkur tanah majikan sekeras garis nasibnya

semesta nestapa melingkarinya
ditindih beban dicumbui kesengsaraan
lengan gemetar digelayuti kemiskinan
jiwa menggeletar selalu disetubuhi penderitaan
perih menciumi seluruh lekukan hidupnya
semakin tak berdaya

matahari bangun sedikit kesiangan
memberi hangat dan sedikit harapan
dalam lelehan keringat muncul sebuah tanya
"kapan bisa beristri dua?"

Komentar